IMPOR CABE, PERLUKAH?

Harga cabe khususnya cabe rawit merah beberapa hari belakangan ini menjadi semakin tak terjangkau.Harga tertinggi selama satu minggu terakhir menyentuh kisaran Rp70.000-90.000. Di beberapa daerah harga cabe khususnya untuk varietas cabe rawit merah menjadi semakin tidak masuk akal.  Harga komoditi ini sempat mencapai Rp.100.000 per kg.

Akibat melambungnya harga cabe ini tentu banyak pihak yang merasa dirugikan.  Cabe memang bukan merupakan bahan pangan pokok seperti beras, akan tetapi keberadaannya merupakan barang komplementer utama bagi makanan pokok bangsa Indonesia.  Perhitungan komponen penyebab inflasi oleh BPS menunjukkan bahwa inflasi bulan Desember 2010 terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras dan cabe.  Tentu saja kenaikan harga yang diluar akal sehat ini dapat memicu keresahan dalam masyarakat.

Banyak pihak telah melakukan kajian tentang melambungnya harga cabe ini.  Kesimpulan dari kajian-kajian tersebut antara lain menyebutkan bahwa fenomena naiknya harga cabe akhir-akhir ini disebabkan oleh karena berkurangnya pasokan cabe akibat datangnya musim penghujan.

Seperti kita ketahui, cabe adalah tanaman yang sangat rentan akan cuaca.  Tanaman cabe membutuhkan air dan sinar matahari yang cukup.  Terlalu banyak air dan kurangnya sinar matahari akan menyebabkan bunga-bunga menjadi gugur dan buah cabe menjadi busuk karena terkena penyakit yang  sangat mudah tersebar pada musim seperti ini.

Jika dilihat dari analisis suplai dan demand dalam ekonomi mikro, fenomena ini berarti bergesernya kurva suplai ke kiri yang membawa konsekuensi kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan.  Saat ini hal penting yang perlu kita kritisi adalah “apakah berkurangnya pasokan akibat cuaca dapat menaikkan harga cabe sampai pada tingkat harga di atas harga barang kebutuhan pokok?”

Perubahan cuaca dan melonjaknya permintaan pada bulan-bulan tertentu adalah satu hal yang rutin terjadi setiap tahunnya.  Pemerintah seharusnya sudah menyiapkan antisipasi tindakan untuk menghadapi kondisi-kondisi di luar kebiasaan tersebut.

Kenaikan harga cabe di luar batas kewajaran ini menurut penulis adalah akibat dari kegagalan pasar.  Bukti dari terjadinya distorsi pasar ini adalah bahwa petani cabe ternyata tidak menerima harga yang tinggi sesuai dengan yang dibayarkan oleh konsumen akhir.  Menteri Pertanian Suswono sendiri menyatakan bahwa kenaikan harga cabe ini lebih banyak dinikmati oleh pedagang.  Terbatasnya pasokan pangan banyak dimanfaatkan pedagang dengan cara menaikkan harga. Kelihatannya ini dibikin panik agar harga melambung (Tempointeraktif.com, 4 Januari 2011)

Pasar komoditi pertanian seperti cabe lazimnya adalah sebuah pasar yang mendekati ideal yaitu pasar persaingan sempurna.  Dalam pasar ini idealnya pembeli dan penjual memiliki akses yang sama terhadap informasi harga.  Distorsi pasa akan terjadi apabila informasi ini tidak dapat diakses oleh pembeli dan penjual.

Tingginya marjin pemasaran antara produsen (petani cabe) dan konsumen akhir menggambarkan bahwa rantai pemasaran yang ada mengalami inefisiensi.  Untuk itulah pemerintah perlu melakukan kajian mengenai rantai pemasaran cabe dan bahan pangan lainnya sehingga dapat diketahui pada titik mana terjadi inefisiensi pemasaran untuk selanjutnya dapat diambil langkah-langkah penanggulangannya.

Usaha untuk menanggulangi menipisnya stok cabe antara lain adalah dengan mengolah kelebihan stok pada saat produksi berlebih.  Beberapa alternatif pengolahan yang dapat dilakukan antara lain adalah mengolahnya menjadi cabe kering/cabe bubuk, cabe kaleng dan pasta cabe.  Pengolahan pascapanen cabe tersebut selain dapat meningkatkan nilai tambah produk juga merupakan solusi yang layak dipertimbangkan dalam mengatasi kenaikan harga yang terjadi setiap tahun.

Tidak hanya dari sisi suplai, dari sisi demand masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai selera konsumsinya.  Selama ini masyarakat terbiasa mengkonsumsi cabe dalam bentuk segar.  Dalam kondisi normal dan tidak ada gangguan suplai hal ini tentu bukanlah masalah besar, tetapi pada saat terjadi penurunan pasokan, perlu dikembangkan cara-cara konsumsi lain misalnya dalam bentuk cabe kering/cabe bubuk, pasta cabe dan lain-lain.

Sehingga dengan demikian bangsa yang sudah “impor minded” ini tidak harus memenuhi kebutuhan cabe dengan cara impor karena negara kita toh sudah memiliki aset berupa tanah yang sangat luas dan subur untuk memenuhi segala kebutuhan kita.

This entry was posted in Ekonomi. Bookmark the permalink.

2 Responses to IMPOR CABE, PERLUKAH?

  1. AbduelMuiz says:

    bagaimana tata cara menanamnya.dan seberapa takaran pupuk kandang atau pupuk ilmiahn
    y.terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s