Mencermati Lonjakan Harga Pangan Dunia

Beberapa hari ini isu lonjakan harga pangan adalah isu hangat yang kerap dibicarakan oleh petinggi  negara ini.  Kenaikan berbagai harga bahan pokok yang mulai terasa pada akhir tahun yang lalu semakin menjadi.  Ditambah lagi dengan kenaikan harga cabe yang diluar akal sehat  menjadi satu hal yang semakin meresahkan kehidupan masyarakat di kalangan bawah.

Kenaikan harga bahan pokok tidaklah luput dari efek akibat kenaikan harga-harga dunia.  Data FAO menunjukkan bahwa harga beras dunia mulai mengalami peningkatan pada sekitar bulan Juni   2010. Sebagai negara pengkonsumsi beras terbesar di dunia, tentu efek akibat transmisi harga ini akan sangat memukul rakyat terutama golongan masyarakat yang rawan pangan.

Tidak hanya beras, harga bahan kebutuhan pokok lain yang mulai  merambat naik adalah gula dan minyak goreng.  Kenaikan harga ini menyusul berkurangnya pasokan akibat terjadinya anomali iklim yang menyebabkan gagal panen.  Penyebab kedua adalah semakin bertambahnya penduduk dunia yang tentu membutuhkan lebih banyak lagi pasokan pangan kemudian kemungkinan yang ketiga adalah terjadinya persaingan antara pangan, pakan dan bahan bakar (food, feed and fuel).

Sebenarnya kasus yang hampir sama pernah terjadi pada tahun 2008 saat terjadi krisis pangan dunia.  Pada saat itu pemerintah berhasil mengisolasi efek transmisi harga dari pasar dunia sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang berlebihan di pasar domestik.  Saat ini pun pemerintah telah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi lonjakan harga di pasar domestik.  Kebijakan yang diambil diantaranya adalah pembebasan bea masuk untuk beberapa komoditi pokok seperti beras, terigu, kedelai dan pakan ternak.  pembebasan bea masuk terhadap impor bahan pangan pokok diharapkan membawa efek kesejahteraan yang lebih baik untuk konsumen dalam negeri.

Dalam konteks ketahanan pangan, impor bukanlah satu hal yang ditabukan.  Akan tetapi sebelum benar-benar dilakukan impor bahan pangan pokok, sebaiknya diketahui dengan pasti jumlah pasokan dan permintaan konsumen dalam negeri.  Pengumpulan data yang shahih dan akurat sangatlah mutlak dilakukan, sehingga impor tidak akan membawa dampak yang merugikan bagi konsumen domestik.

Pembebasan bea masuk terigu juga dirasakan agak kurang pada tempatnya.  Terigu secara tradisional bukanlah makanan pokok bangsa Indonesia, akan tetapi konsumsinya terus meningkat dari tahun ke tahun.  Hal ini patut dijadikan sebuah pe-er besar bagi pemerintah, ketergantungan kita akan impor terigu sudah sangat besar.  Pola pangan masyarakat Indonesia pun menjadi sedikit bergeser dengan menjadikan pangan berbasis terigu (mie instan) sebagai pengganti beras.

Diversifikasi pangan selain beras bukanlah hal yang buruk, tetapi tentu diversifikasi pangan yang diharapkan adalah yang berbasis pangan lokal dan tidak tergantung pada pasokan impor.  Ketergantungan impor bahan pangan bukanlah indikasi yang baik bagi kelangsungan kedaulatan bangsa ini.  Oleh karena itu di samping memiliki strategi jangka pendek untuk mengamankan pasokan pangan dalam negeri, pemerintah perlu memikirkan agar bangsa ini bebas dari ketergantungan pada impor pangan terutama untuk komoditi terigu dan kedelai.

This entry was posted in Ekonomi, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s