PERDAGANGAN JASA INTERNASIONAL, SEBUAH PENGANTAR

Jasa (services), seperti halnya barang (goods) adalah produk yang sering menjadi objek perdagangan internasional. Secara terminologi, jasa dapat didefinisikan sebagai hasil kegiatan produksi yang mengubah keadaan satuan-satuan yang mengkonsumsi, atau mempermudah pertukaran produk atau aset keuangan. Jasa adalah hasil kegiatan produksi yang mengubah keadaan satuan-satuan yang mengkonsumsi, atau mempermudah pertukaran produk atau aset keuangan. Istilah “jasa” mencakup bermacam-macam produk dan kegiatan yang tak dapat disentuh (intangible) yang sulit dijabarkan di dalam suatu definisi yang sederhana. Jasa juga seringkali sulit dipisahkan dari barang, sebab jasa dapat mencakup keduanya kadang tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Untuk keperluan pengukuran dan pengumpulan data “jasa” sebagai suatu kegiatan ekonomi, jasa didefinisikan sebagai berikut: “Jasa adalah hasil kegiatan produksi yang mengubah keadaan satuan-satuan yang mengkonsumsinya, atau mempermudah pertukaran produk atau aset keuangan.” (System of National Accounts 2008, paragraf 6.17).
Jasa adalah masukan (input) utama pada seluruh kegiatan perekonomian, termasuk jasa lain sebagaimana dapat dilihat dari Tabel 1 yang menunjukkan keterkaitan antar-sektor yang sangat penting.

Masyarakat modern tidak dapat berfungsi tanpa jasa transportasi, komunikasi, keuangan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Seluruh sektor – barang atau jasa – tergantung pada ketersediaan dan kualitas masukan (input) jasa untuk daya saing mereka, dan tentunya, daya tahan (survival). Sektor-sektor jasa utama menyediakan fungsi perantara (intermediasi) yang sangat penting. Transportasi dan telekomunikasi mempermudah transaksi melalui ruang, sementara jasa keuangan mempermudah transaksi dari waktu ke waktu.
Secara makro, sektor jasa merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan bahwa sektor jasa merupakan salah satu kontributor PDB yang sangat penting. Kontribusi sektor jasa dalam PDB Indonesia adalah sekitar 50% , sektor pertanian dan pertambangan hanya menyumbang sekitar 25% dari PDB sedangkan 25% sisanya adalah dari sektor manufaktur.
Tingginya pangsa sektor jasa dalam PDB Indonesia diikuti pula oleh banyaknya jumlah angkatan kerja yang berkerja di sektor ini. Data BPS menunjukkan bahwa sektor jasa menyerap sekitar setengah dari angkatan kerja yang tersedia dan 40% dari angkatan kerja yang bekerja di sektor jasa adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan yang positif dari perdagangan jasa di Indonesia akan membawa kesempatan yang lebih banyak untuk bekerja baik bagi laki-laki maupun perempuan yang termasuk dalam angkatan kerja.
Tidak seperti barang, jasa memiliki karakteristik yang khas yaitu tidak dapat disentuh atau dirasakan (intangible) sehingga membawa dampak pada modalitas perdagangan yang berbeda pula. Selain itu, sifat intangible ini menjadikan perdagangan jasa lebih rumit untuk dikuantifikasi tidak seperti pada perdagangan barang yang umumnya tercatat dalam dokumen-dokumen kepabeanan. Ini adalah salah satu alasan, mengapa statistik-statistik perdagangan konvensional tidak mencakup seluruh perdagangan internasional bidang jasa.
Karakteristik jasa yang kedua adalah Tidak dapat disimpan, pada saat produksi diselesaikan, jasa telah harus disediakan bagi para konsumen. Ketika seorang pasienmenemui seorang dokter, jasa disediakan pada saat yang sama ketika jasa tersebut dikonsumsi. Ada kalanya, seorang pasien dapat meminta nasihat medis melalui telepon, tetapi sebagian besar dari kita lebih menyukai bertemu dokter secara langsung guna memperoleh pemeriksaan menyeluruh. Banyak jasa mensyaratkan kedekatan fisik antara penyedia dan konsumen. Dampak dari ciri ini adalah bahwa “perdagangan” akan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda , tidak sekadar perpindahan lintas batas sebagaimana pada kasus barang.
karakteristik khas jasa yang ketiga adalah jasa cenderung melekat pada barang, arus informasi, atau pada manusia. Hal ini adalah konsekuensi dari ciri khas jasa yang kedua yaitu jasa tidak dapat disimpan harus segera dikonsumsi pada saat jasa tersebut diproduksi.
Karakteristik jasa yang keempat adalah ketersediaan jasa bersifat variabel yaitu tergantung pada seseorang yang menyediakan jasa atau menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumen. Contohnya adalah kualitas perawatan kesehatan yang diterima oleh pasien tidak pernah sama, walaupun dokter-dokternya berasal dari rumah sakit yang sama, atau memiliki spesialisasi yang sama. Bahkan meskipun mereka mungkin telah memperoleh pelatihan yang sama. Pada kasus barang, produk dapat dibuat satu kali atau barang yang sama dapat diproduksi jutaan kali dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, dan konsumen tidak akan dapat membedakannya satu sama lain. Banyak jenis jasa disesuaikan dengan selera atau kebutuhan perseorangan dan keanekaragaman jasa atau produk menjadi aspek utama perdagangan jasa.
Secara umum, jasa diperdagangkan ketika penyedia dan pelanggan berasal dari negara yang berbeda, tidak memandang tempat di mana transaksi terjadi. Karena karakteristik jasa yang sangat khas ini maka jasa diperdagangkan dengan cara yang berbeda-beda. Terdapat empat moda perdagangan jasa yang dikenal dalam perjanjian perdagangan jasa multilateral (GATS-WTO). Keempat moda tersebut adalah :
1. Mode 1 Cross Border
Pada moda ini, perdagangan melalui penyediaan lintas batas, jasa melintasi batas negara, terpisah baik dari penyedia maupun konsumen. Hal ini serupa dengan cara bagaimana barang diperdagangkan. Contohnya Budaya pop Korea Selatan yang telah menjangkiti Asia Tenggara pada beberapa tahun belakangan, tidak terkecuali di Indonesia. Produk terpenting dari apa yang disebut sebagai Gelombang Korea (Korean Wave) adalah musik pop atau K-pop. Selain itu, bintang-bintang Korea Selatan muncul secara teratur di televisi, di film-film dan papan reklame di seluruh Indonesia. Industri di bidang hiburan ini adalah salah satu contoh jasa yang diperdagangkan antar negara (dalam hal ini adalah impor Indonesia dari Korea Selatan).
2. Mode 2 Consumption abroad
Melalui cara ini, konsumen pergi ke luar negeri dan berstatus bukan penduduk dimana jasa dikonsumsi. Moda ini juga disebut sebagai “perpindahan konsumen” sebab konsumenlah yang melakukan perjalanan atau berpindah untuk mempermudah terjadinya transaksi. Termasuk pula kedalamnya adalah perpindahan hak milik konsumen (contoh, mengirim sebuah kapal atau peralatan lainnya ke luar negeri untuk perbaikan). Pelayanan kesehatan dapat menjadi contoh bagi moda 2 ini. Pasien Indonesia merupakan pelanggan setia terbesar bagi industri kesehatan Singapura. Contohnya, sejak tahun 2009, tiga rumah sakit Parkway telah merawat rata-rata 37 pasien Indonesia per hari, dengan rata-rata rawat inap selama 3,7 malam. Jumlah warga Indonesia yang berobat ke rumah sakit Parkway meningkat sebesar17 persen pada tahun 2010 jika dibandingkan dengan 2009.

3. Mode 3 Commercial Presence
Cara lain dimana jasa dapat diperdagangkan adalah melalui keberadaan komersial, yang pada intinya adalah menanamkan modal di negara lain (Foreign Direct Investment) dalam rangka menyediakan suatu jasa. Pada kasus ini penyedia jasa adalah perusahaan afiliasi, anak perusahaan atau kantor perwakilan yang didirikan di suatu negara, yang merupakan kepanjangan tangan penyedia jasa yang berstatus bukan penduduk, yang dapat mempekerjakan pegawai setempat, didirikan berdasarkan hukum setempat, dsb. Jadi, penyediaan jasa aktual dilakukan oleh ‘penduduk’, sementara penanam modalnya adalah pihak asing. Indonesia, melalui salah satu BUMN telah melakukan penanaman modal di luar negeri yaitu di negara Oman. Perusahaan konstruksi PT Adhi Karya Tbk (ADHI) saat ini sedang membangun dua proyek di Oman, yaitu Tilal Complex, suatu proyek gabungan di Al Khuwair, dan pembangunan apartemen dan hotel di Shadden Al Hail melalui anak perusahaannya, Adhi Oman LLC.

4. Mode 4 Movement of Natural Person
Cara keempat dimana jasa dapat diperdagangkan adalah melalui apa yang disebut sebagai perpindahan natural persons. Juga disebut sebagai perpindahan sementara penyedia jasa, sebab produsen jasalah yang berpindah sementara waktu guna mempermudah terjadinya transaksi. Pada kasus ini, penyedia jasa berada di dalam negeri untuk sementara waktu dan dengan demikian berkedudukan sebagai bukan penduduk. Pengiriman tenaga kerja perawat terlatih ke negara Jepang merupakan salah satu contoh moda 4 ini. Pengiriman perawat ini merupakan bagian dari perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA). Di bawah EPA, Indonesia telah mengirimkan sejumlah 1.000 perawat dan pengasuh ke Jepang pada tahun 2009.

Hasil kajian yang telah dilakukan oleh Direktorat Neraca Pembayaran dan Kerjasama Ekonomi Internasional BAPPENAS yang dilakukan secara spesifik untuk empat sektor jasa ( transportasi, pariwisata, keuangan dan tenaga kerja) menunjukkan bahwa di subsektor jasa transportasi, penerimaan devisa dari sektor jasa transportasi masih defisit, dimana Jasa transportasi laut nasional lebih banyak dikuasai perusahaan asing sehingga melemahkan daya saing perdagangan komoditas nasional dan justru memberikan keunggulan kompetitif kepada produk dan jasa asing. Oleh karena itu pemerintah Indonesia perlu melakukan penguatan daya saing sektor jasa ini. Penguatan daya saing ini terutama harus mulai dilakukan dengan membangun sumber daya manusia manusia yang terdidik dan memiliki cukup keterampilan, kreatif serta inovatif karena faktor sumber daya manusia adalah faktor yang sangat krusial dalam pengembangan sektor jasa.

This entry was posted in Ekonomi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s